Revolusi Industri 4.0 yang pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Klaus Schwab menjadi momok bagi berbagai kalangan. Nama besar korporasi ataupun lembaga dalam bidang ekonomi, pelayanan, dan jasa tidak menjamin untuk terus dapat mempertahankan eksistensinya. Banyak korporasi dan lembaga besar bertumbangan karena mengala,o disruptif teknologi (disruptive technology) yang begitu cepat.

Tidak terkecuali, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang mau tidak harus menghadapi tantangan yang tidak ringan. Banyak bidang pekerjaan yang selama ini diisi tenaga manusia hilang digantikan dengan teknologi, mesin, robot, ataupun kecerdasan buatan. Akibatnya banyak lulusan SMK yang seharusnya langsung bisa bekerja akhirnya terancam menjadi pengangguran.

Inpres no 9 tahun 2016 bertujuan untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0. Sejumlah 12 Kementerian kepada 12 Menteri Kabinet Kerja (termasuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), 34 Gubernur, dan Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Salah satu dari dua belas kementerian tersebut adalah Kementerian Perindustrian.

“Peningkatan kompetensi SDM menjadi salah satu program prioritas pemerintah karena dapat memacu produktivtas dan daya saing sektor industri nasional. Hal ini sesuai dengan implementasi peta jalanMaking Indonesia 4.0,” paparnya.

Sejak diluncurkan pada 2017, Kemenperin telah menggandeng 648 industri dan 1.862 SMK dengan 3.289 perjanjian kerja sama yang ditandatangani. Pada 2019 program pendidikan vokasi yang link and matchSMK ditargetkan dapat menggaet sebanyak 2.685 SMK dan 750 perusahaan.

“Peningkatan kompetensi SDM menjadi salah satu program prioritas pemerintah karena dapat memacu produktivtas dan daya saing sektor industri nasional. Hal ini sesuai dengan implementasi peta jalanMaking Indonesia 4.0,” paparnya.

Dalam menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0, SMK harus terus berkembang secara dinamis dan mampu menyelenggarakan pendidikan berbasis kompetensi. Dibutuhkan komitmen yang tinggi dari para pemangku kepentingan agar SMK mampu menghasilkan lulusan yang kompeten dalam berbagai bidang.

Hasil gambar untuk smk industri 4.0

Revolusi Industri 4.0 yang pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Klaus Schwab menjadi momok bagi berbagai kalangan. Nama besar korporasi ataupun lembaga dalam bidang ekonomi, pelayanan, dan jasa tidak menjamin untuk terus dapat mempertahankan eksistensinya. Banyak korporasi dan lembaga besar bertumbangan karena mengala,o disruptif teknologi (disruptive technology) yang begitu cepat.

Tidak terkecuali, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang mau tidak harus menghadapi tantangan yang tidak ringan. Banyak bidang pekerjaan yang selama ini diisi tenaga manusia hilang digantikan dengan teknologi, mesin, robot, ataupun kecerdasan buatan. Akibatnya banyak lulusan SMK yang seharusnya langsung bisa bekerja akhirnya terancam menjadi pengangguran.

Inpres no 9 tahun 2016 bertujuan untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0. Sejumlah 12 Kementerian kepada 12 Menteri Kabinet Kerja (termasuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), 34 Gubernur, dan Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Salah satu dari dua belas kementerian tersebut adalah Kementerian Perindustrian.

“Peningkatan kompetensi SDM menjadi salah satu program prioritas pemerintah karena dapat memacu produktivtas dan daya saing sektor industri nasional. Hal ini sesuai dengan implementasi peta jalanMaking Indonesia 4.0,” paparnya.

Sejak diluncurkan pada 2017, Kemenperin telah menggandeng 648 industri dan 1.862 SMK dengan 3.289 perjanjian kerja sama yang ditandatangani. Pada 2019 program pendidikan vokasi yang link and matchSMK ditargetkan dapat menggaet sebanyak 2.685 SMK dan 750 perusahaan.

“Peningkatan kompetensi SDM menjadi salah satu program prioritas pemerintah karena dapat memacu produktivtas dan daya saing sektor industri nasional. Hal ini sesuai dengan implementasi peta jalanMaking Indonesia 4.0,” paparnya.

Dalam menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0, SMK harus terus berkembang secara dinamis dan mampu menyelenggarakan pendidikan berbasis kompetensi. Dibutuhkan komitmen yang tinggi dari para pemangku kepentingan agar SMK mampu menghasilkan lulusan yang kompeten dalam berbagai bidang.

sumber : https://psmk.kemdikbud.go.id/konten/4130/bersama-kemenperin-smk-hadapi-revolusi-industri-40